Tingkatkan Kualitas Manggis, Pemkab Lebak Gandeng Unpad

by -207 Views

INFOTANI.ID – Komoditas buah manggis merupakan salah satu andalan ekspor Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Pemerintah Kabupaten Lebak saat ini tengah mengembangkan kawasan kebun manggis dengan estimasi 50.000 pohon.

Kawasan tersebut berada tiga kecamatan; Cipanas, Cibeber, dan Lebakgedong. Ketiganya merupakan sasaran program Proyek Pengembangan Sistem Pertanian terpadu di Daerah Dataran Tinggi (Upland), Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementerian Pertanian.

“Paling banyak di Kecamatan Cipanas dan Lebakgedong, sekitar 120 hektar,” ujar Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Lebak, Rahmat Yuniar, Kamis (19/8).

Rahmat mengatakan, permasalahan yang dihadapi oleh para petani manggis di Kabupaten Lebak adalah masih rendahnya produktivitas dan kualitas manggis yang dihasilkan. Selama kurun 2019 -2021, pohon manggis tidak produktif.

“Banyak petani mengeluhkan pohon manggisnya tidak berbuah sama sekali,” kata Rahmat.

“Salah satu penyebabnya serangan hama dan penyakit, thrips serta Getah Kuning,” lanjut dia.

Kendati demikian, permasalahan tersebut berangsur-angsur biasa diatasi. Terlebih dengan hadirnya program Upland yang dicanangkan Kementerian Pertanian dalam rangka meningkatkan produktivitas dan pendapatan petani.

“Karena memang fokus dari Upland ini untuk pengembangan pertanian di dataran tinggi yang komprehensif, mulai dari pengembangan on-farm sampai off-farm,”cetus Rahmat.

Kepala Bidang Produksi Pertanian, Denny Iskandar memaparkan, pihaknya juga menjalin kerja sama dengan Universitas Padjadjaran Bandung. Kerjasama dimulai sejak tanggal 3 Juni 2022. Bentuknya adalah kegiatan Pelatihan kapasitas aparat dalam rangka kegiatan “The Development of Integrated Farming System in Upland Areas (Upland Project) Di Kabupaten Lebak.

“Sudah empat kali (kegiatannya). Mulai 7 Juni sampai 21 Juni,” jelas Rahmat.

Dia bercerita bahwa selepas giat tersebut, digelar pula kegiatan Demonstrasi Plot (Demplot) manggis. Baik di lokasi budidaya manggis yang sudah berproduksi (eksisting) di Kecamatan Cipanas, maupun di lokasi budidaya pengembangan manggis di Kecamatan Cibeber.

Rahmat menambahkan, Demplot Manggis ini dibiayai oleh Program Upland yang bertujuan untuk menjawab permasalahan yang dihadapi petani. “Bagaimana agar di lokasi eksisting produksi manggis bisa meningkat dan di lokasi pengembangan pertumbuhan manggis bisa cepat dan tumbuh subur,” katanya.

Uplad Project Dorong Akselerasi Produktivitas Petani

Terpisah, Dirjen PSP Kementerian Pertanian, Ali Jamil memaparkan jika Upland Project memiliki 4 komponen kegiatan.

“Untuk Komponen pertama terdiri dari peningkatan produktivitas dan pembentukan ketahanan pangan. Untuk komponen kedua adalah pengembangan agribisnis dan fasilitasi peningkatan pendapatan, komponen ketiga adalah penguatan sistem kelembagaan, dan komponen terakhir manajemen proyek,” jelasnya.

Ditambahkan Ali Jamil, ada 5 titik kritis dari kegiatan ini.

“Yang menjadi titik kritis pertama adalah kegiatan desain konstruksi prasarana lahan dan air irigasi. Hal ini meliputi aspek perencanaan, aspek teknis, aspek keuangan,” ujarnya.

Titik kritis lainnya adalah sosialisasi kepada petani mengenai kewajiban sharing dana 20% agar kegiatan berjalan sesuai rencana, kemudian pengelolaan bantuan alsintan pra dan pasca panen yang dilakukan oleh sub lembaga berbeda dalam kelompok tani.

Sementara Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo mengatakan, Upland Project yang akan berlangsung hingga 2024, memiliki multiplier effect.

SYL-sapaannya- berharap Upland mampu meningkatkan produktivitas pertanian dan pendapatan petani di daerah dataran tinggi.

“Caranya, melalui pengembangan infrastruktur lahan dan air, pengembangan sistem agribisnis, dan penguatan sistem kelembagaan,” katanya.

Adapun 14 Kabupaten yang menjadi lokasi Upland Project adalah Banjarnegara, Cirebon, Garut, Gorontalo, Lebak, Lombok Timur, Magelang, Malang, MInahasa Selatan, Purbalingga, SUbang, Sumbawa, Sumenep, dan Tasikmalaya.

Upland Project memiliki 4 komponen kegiatan. Pertama terdiri dari peningkatan produktivitas dan pembentukan ketahanan pangan. Untuk komponen kedua adalah pengembangan agribisnis dan fasilitasi peningkatan pendapatan, komponen ketiga adalah penguatan sistem kelembagaan, dan komponen terakhir manajemen proyek.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.